Rabu, 06 Februari 2013

Miracle Journey; Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru, review bacaanbzee

Judul : Miracle Journey; Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Elex Media Komputindo
Edisi : Cetakan pertama, 2013
Format : Paperback, 174 halaman

Bagaimana kisah itu bermula?
Mungkin… semua berawal dari hujan debu yang begitu panjang….

Kofa adalah sebuah desa di Nusa Tenggara Timur yang begitu hijau, jika dibandingkan dengan desa sekitarnya yang gersang. Hujan sering sekali turun, dan ada empat mata air yang terus mengalir di keempat penjuru desa. Keajaiban Kofa ini dimulai saat hujan debu beberapa waktu berselang, yang mengubah Kofa menjadi seperti sekarang.
Kitta Kafadaru tinggal di Kofa seumur hidupnya. Hari kelahirannya ditandai dengan hujan debu yang membuat Kofa menjadi indah. Bentuk tubuhnya tidak sempurna—ada punuk di punggungnya, namun dia memiliki keistimewaan. Tangannya memiliki kekuatan penyembuhan. Kitta Kafadaru tak pernah memilih untuk dilahirkan dengan keistimewaan, maupun kekurangan itu. Dia hanya menginginkan hidup ‘normal’ seperti orang lain. Sampai suatu hari, kekecewaan mendorongnya untuk melakukan perjalanan, keluar dari Kofa yang tak pernah ditinggalkannya sejak dia lahir.
Dalam perjalanan itu, Kitta Kafadaru mengalami berbagai kejadian aneh. Namun ada satu hal yang selalu diingatnya dalam perjalanannya itu, yaitu cerita Ame Tua tentang seorang penabur pasir yang bisa menurunkan hujan. Penabur pasir itu sama seperti dirinya, berkelana untuk merasakan hidup ‘normal’, seperti orang biasa. Maka dia hanya menggunakan keistimewaannya tersebut tiga kali saja, untuk hal-hal yang sangat dibutuhkan. Kitta Kafadaru pun berusaha mengikuti jejak sang pemanggil hujan tersebut.

“Ini memang sudah jalan hidupku. Seberapa kuat aku menghindarinya, atau mencoba menepisnya, aku akan tetap kembali ke jalan ini….” (hal.157)

Berkali-kali Kitta Kafadaru mengalami keadaan dimana dia harus menggunakan tangan penyembuhnya. Karena yang dihadapinya adalah orang-orang tak berdosa, orang-orang yang tersakiti, orang-orang yang kesembuhannya dapat mengubah banyak hal, mengubah keadaannya dan manusia di sekitarnya. Hati kecil Kitta Kafadaru mendorongnya untuk melakukannya. Tiga kali saja.
Kemudian bagaimana dengan orang keempat? Akankah Kitta Kafadaru tega meninggalkannya begitu saja, demi tekadnya untuk menjadi manusia biasa, sebagaimana sang pemanggil hujan?

“Namun yang pasti, aku selalu ingat dengan ucapan ayahku, Papae Toda dulu, kalau semua manusia selalu diciptakan dengan segenggam kebaikan, dan setitik ketidakbaikan.” (hal.123)

Sebagaimana subjudul buku ini, kita disuguhkan pada perjalanan yang penuh keajaiban. Baik itu keajaiban yang ditemui oleh Kitta Kafadaru, maupun keajaiban yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Namun tidak hanya itu, ada yang jauh lebih penting daripada keajaiban, yaitu rasa kemanusiaan kita. Bagaimana kita menghargai kekurangan dan kelebihan diri sendiri, memilih jalan hidup yang kita yakini benar, dan berhenti menghakimi orang lain dari apa yang kita lihat dari luar.
Saya suka cara kisah ini ditulis, meski sulit bagi saya menyelesaikan buku tipis ini dalam dua-tiga kali duduk. Setiap menyelesaikan satu kisah, saya merasa harus berhenti sejenak. Rasanya seperti mengikuti perjalanan Kitta Kafadaru, dan setiap pemberhentian membutuhkan jeda untuk sekadar menarik napas. Sejujurnya, sejak awal membaca sinopsis buku ini, hingga pertengahan buku, saya sudah memiliki asumsi tentang apa yang akan saya temukan di akhir. Akan tetapi ternyata saya salah menebak, dan saya puas karena saya salah. Saya lega dengan apa yang terjadi pada akhir perjalanan Kitta Kafadaru, bahwa hidup itu tak selalu harus sama dengan harapan kita. Bahwa terkadang, apa yang kita yakini benar itu belum tentu benar-benar benar.
4/5 bintang untuk perjalanan penuh cahaya.

Lalu apa yang bisa engkau ceritakan tentang jejak-jejak yang terlihat di jalan setapak, dan pelan-pelan hilang tersapu angin? Sebagai pengingat kita untuk tak lagi melihat ke belakang? (hal.127)

*Novel ini diangkat dari enam buah cerpen oleh penulis. Salah satunya berjudul Kofa, yang pernah saya baca di kumpulan cerpen Mata Air Air Mata Kumari yang telah saya review juga di sini.


http://bacaanbzee.wordpress.com/2013/02/04/miracle-journey/

Miracle Journey, review Pauline Destinugrainy di Desty Baca Buku


Judul : Miracle Journey
Penulis : Yudhi Hewibowo
Halaman : 184
Penerbit : Elex Media Komputerindo


Everything happen for a reason.

Kalimat di atas adalah salah satu prinsip hidup yang saya yakini. Semua terjadi atau tercipta karena ada alasan dan tujuannya. Bukan saja kebaikan yang terjadi dalam hidup, tapi juga kemalangan dan kesialan.
Ternyata Kitta Kafadaru, tokoh yang melakukan perjalanan penuh keajaiban, juga mendapatkan petuah yang sama. Kitta lahir dengan ketidaksempurnaan di tubuhnya. Ada punuk di punggungnya yang membuatnya tidak terliat tegak. Tetapi di balik ketidaksempurnaannya, Kitta memiliki kelebihan. Dia mampu menyembuhkan orang sakit dengan hanya menyentuh mereka.

Kitta lahir di sebuah desa kecil di Nusa Tenggara Timur, desa bernama Kofa. Desa itu dulunya hijau dengan empat mata air yang memberikan air sejuk sumber kehidupan desa itu. Tetapi sejak kepergian Kitta dari desa itu, tidak ada lagi kesuburan di sana. Tanah menjadi gersang, dan mata air tidak lagi memberikan kehidupan bagi masyarakatnya. Kepergian Kitta konon karena sebuah peristiwa yang memalukan.Cintanya ditolak oleh gadis yang telah disembuhkannya. Kitta tahu itu karena punuk di punggungnya. Sayangnya kemampuan Kitta untuk menyembuhkan penyakit tidak berlaku pada dirinya. Mungkin karena itu Kitta jadi malu dan meninggalkan desanya. Kitta tidak menyadari bahwa punuknya bukanlah penyakit.

Perjalanannya lurus ke arah barat membawanya berjumpa dengan beberapa orang. Ketika Kitta berjumpa dengan seorang Ame Tua, Kitta mengutarakan keinginannya untuk menjadi orang biasa saja. Ame Tua itu kemudian menceritakan tentang Matu Lesso, penabur pasir yang memanggil hujan. Matu Lesso juga seperti Kitta, ingin hidup biasa saja. Seperti halnya Matu Lesso, kepada Kitta dipesankan bahwa dia hanya akan menyembuhkan tiga kali saja selama perjalanannya. Setelah itu dia harus menjadi orang biasa.

Dalam perjalanannya Kitta menyembuhkan seorang lelaki dengan elang yang melayang di atas kepalanya, seorang perempuan yang bersenandung aneh di dalam hutan mati, dan seorang pemuda berkulit merah yang terlahir sebagai iblis. Setelah menyembuhkan, Kitta mendapat pelajaran berharga dari masing-masing orang tersebut. Dan ketika dia berjumpa dengan seorang bayi yang selamat dari air bah, Kitta menolak “memulihkan” bayi itu. Kitta ingin jadi orang biasa. Tapi apakah bisa hanya menjadi orang biasa saja?

… kadang seorang diciptakan untuk menjadi orang tidak biasa…

Seperti Kitta, dalam hidup kita seringkali menyembunyikan kekurangan dan kelebihan kita. Kita ingin jadi orang biasa seperti kebanyakan orang lainnya. Tapi apa standar biasa itu? Tidak ada. Tuhan memberikan talenta pada masing-masing ciptaannya. Talenta itu diberikan karena alasan tertentu. Kembali lagi everything happen for a reason. Hal yang tidak biasa itu ada karena punya tujuan.  Bercermin dari perjalanan Kitta, saya menemukan bukan hanya bagaimana menerima hal yang tidak biasa dalam hidup kita. Tapi juga belajar tidak menghakimi orang lain dari penampilan luarnya.
Membaca kisah Kitta seperti berada dalam dunia fantasy tetapi nyata. Penggambaran lingkungan sekitar dengan budaya masyarakat Timur yang kental membuat saya menikmati buku ini seperti sedang melakukan perjalanan.  Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah nama-nama tokohnya yang unik, dan membuat kisah ini menjadi kisah yang tidak biasa.


http://destybacabuku.wordpress.com/2013/02/02/147-miracle-journey/

Mencari Novel Perjalanan Menuju Cahaya

Menerima beberapa pesan yang menanyakan novel Perjalanan Menuju Cahaya. Novel ini memang merupakan novel yang punya hubungan kuat dengan Miracle Journey. Salah satu kisah dalam Perjalanan Menuju Cahaya merupakan cikal bakal novel Miracle Journey./ Novel ini terbit beberapa tahun lalu. Merupakan pemenang naskah penulisan novel inspiratif penerit andi.

Novelnya mungkin sudah sulit didapatkan di toko2 buku. Namun di beberapa toko online sepertinya masih tersedia. Bila tertarik bisa langsung klik di sini...

inibuku.com
http://inibuku.com/12589/perjalanan-menuju-cahaya.html

penerbit andi
http://andipublisher.com/produk-0902002890-perjalanan-menuju-cahaya.html

Jumat, 01 Februari 2013

Miracle Journey: Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru, review Oky Septya


Judul: Miracle Journey: Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru
Penulis: Yudhi Herwibowo 
Penerbit: Elex Media Komputindo
Hlm: 174
Tahun: 13 Januari 2013
Rated: 4/5
Harga: IDR 32800

Suatu ketika, dulu sekali, lahir Kitta Kafadaru yang berpunuk tepat saat badai debu melanda desa Kofa. Sejak itu pula Desa Kofa menjadi desa yang sangat indah dan subur di tanah Nusa Tenggara Timur.

Tangan-tangan bercahaya Kitta rupanya bisa menyembuhkan penyakit. Dengan hati yang peka, Kitta menolong banyak orang termasuk gadis jelita yang terkena luka bakar di wajahnya. Lalu ia jatuh cinta pada gadis itu. Sayang, cintanya di tolak. Kitta patah hati, ia malu lalu berkelanalah ia tanpa pamit.

Dalam pengembaraannya Kitta tidak menetapkan tujuan, ia hanya berkelana mengikuti kemana kakinya melangkah. Dalam perjalanan itu dia bertemu Ame Tua yang suka bercerita. Dari Ame Tua itu ia mendengar kisah-kisah menakjubkan.
 
Dari Ame Tua, ia mendengar kisah Si Penabur Pasir. Rupanya Si Penabur Pasir ini pun memiliki kisah hidup yang sama dengan Kitta. Si Penabur Pasir ini lebih dikenal sebagai Pemanggil Hujan. Dimana ia menabur pasirnya, maka hujan akan segera turun di tanah-tanah kering. Si Penabur Pasir mendedikasikan hidupnya untuk berjalan dari desa ke desa hingga suatu saat ia memutuskan berhenti. Si Penabur Pasir merasa lelah dan di akhir perjalanan ia hanya menabur pasir sebanyak tiga kali lalu mencoba sekuat tenaga hidup seperti orang biasa.

"Semua yang diciptakan tentu selalu ada tujuannya. Tapi tentu saja terkadang engkau boleh memilih. Kalau engkau tak ingin kelebihan yang diberikan kepadamu, tentu engkau bisa.. mengabaikannya, bukan?"

"Mengabaikan?"
 
"Ya, anggap saja engkau tak pernah punya kelebihan itu. Berlakulah seperti orang biasa." ~ p.41
 
Kitta terkesima, setelah berpisah dengan Ame Tua ia terus melangkah, bertemu berbagai macam kejadian dan keajaiban. Dalam perjalanan itu ia pun berniat untuk menjadi orang biasa seperti Si Penabur Pasir, mengikuti jejaknya untuk menyembuhkan 3 orang saja kemudian berusaha keras menjadi orang biasa.

***

Seperti biasa, tulisan Yudhi Herwibowo yang sedikit nyastra menggaungkan nuansa yang berbeda dibandingkan novel-novel Romance maupun Fantasy yang biasa saya baca. Gaya bahasanya yang khas ini membuat saya tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru.
 
Belum lagi tema unik yang mengangkat mitos dari daerah timur Indonesia. Lumayan jarang saya jumpai dalam karya sastra populer Indonesia. Campuran mitos daerah NTT, sedikit fantasy dan perjalanan penuh keajaiban membuat novel ini terasa unik sekali. Belum lagi latar waktu yang nggak jelas menurut saya, serasa di bawa ke dunia dongeng.
 
Menurut saya mitos lokal yang diberi sedikit fantasy sudah nggak asing lagi terdengar di telinga kita. Banyak sekali keajaiban-keajaiban yang seirng kita dengar ya, terutama di tanah jawa yang kadang nggak masuk akal, tapi percaya nggak percaya buktinya nyata. Sama dengan kisah Kitta Kafadaru, meskipun latar tempatnya di Indonesia bagian timur, menurut saya kelebihan-kelebihan manusia ini terasa wajar saja, yang ghaib-ghaib gitu saya percaya benar-benar ada.
 
Saya senang banget ketika mendapat buku ini. Masih ingat jelas cerita pendek yang saya baca di Mata Air Air Mata Kumari tentang sebuah desa bernama desa Kofa dan keajaiban tangan bercahaya Kitta Kafadaru yang bikin saya gregetan. Saya kurang suka dengan kumcer karena nanggung banget dan sering bikin penasaran. Terutama kisah Kitta Kafadaru, saya penasaran dengan apa yang terjadi pada Kitta yang pergi dari desa itu serta apa yang terjadi pada desa Kofa setelah kepergiannya. Rupanya di ceritakan lebih lanjut dalam novel Miracle Journey ini.

Sepanjang perjalanan Kitta ia bertemu dengan beberapa cerita menakjubkan, seperti Anak Iblis berkulit merah yang kepergiannya membawa longsor ke seluruh desa. Tentang lelaki dengan burung elangnya, lalu pertemuannya dengan Perempuan wangi dan selalu dikelilingi kupu-kupu yang merindu air bah. Dalam perjalanannya Kitta berusaha menolong orang-orang tersebut sebelum ia menjadi orang biasa.

Sepanjang perjalanan itu pula Kitta juga bisa memetik nilai-nilai moral dalam setiap kisah. Bahwa seseorang tidak bisa memilih untuk terlahir seperti apa. Bahwa setiap orang sudah memiliki jalan hidupnya masing-masing, sehingga sekeras apapun kau berbelok kau tetap akan bertemu jalan itu lagi. Tapi, tentu kau juga bisa memilih untuk mengabaikannya.
 
Dalam pengembaraan, Kitta mulai membuka matanya, benarkah pilihannya untuk mengabaikan kemampuannya merupakan pilihan yang terbaik? Jika Tuhan mengizinkan Kitta hidup menjadi orang biasa seperti yang dilakukan Si Penabur Pasir, apakah ia akan menyesal atau justru merasa bahagia?

  "Tadi Ame sempat berkata, 'tubuhnya yang merah yang membuatnya tampak mengerikan. Bila tubuhnya berwarna seperti kita, tatapannya akan terasa biasa saja....'" ujar Kitta Kafadaru. "Lalu, apakah bila ... tubuh Bakar tak lagi berwarna merah seperti sekarang, Ame akan tetap menuduhnya melakukan semua kejahatan ini?" ~ p.116

 
Bagi Kita Kafadaru, ia menginginkan kehidupan biasa sebagai orang biasa. Ia memilih jalan menjadi orang biasa ketika satu persatu ia bersimpangan jalan dengan berbagai cerita kehidupan. Sebelum akhirnya Kitta menyadari bahwa selama ini apa yang ia inginkan belum tentu sesuai dengan apa yang memang sudah ditakdirkan untuknya.
 
Pilihan akan selalu menentukan apakah kita akan menerima takdir atau menetukan takdir sendiri. Sebenarnya saya sendiri merasa kehidupan kita nggak jauh beda dengan Kitta Kafadaru, apakah kita mau menerima diri kita apa adanya dan setelah itu menjalani takdir yang sudah ditentukan atau kita harus membuat pilihan untuk menemukan takdir yang kita inginkan?


http://www.facebook.com/notes/oky-septya/miracle-journey-kisah-perjalanan-penuh-keajaiban-kitta-kafadaru/10151329553977885

Miracle Journey – Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru, review Alvina Ayuningtyas


Judul Buku : Miracle Journey – Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan Pertama : Januari 2013
Tebal : 174 halaman, paperback
ISBN : 978-602-02-0379-9

Tak ada seorang bayi yang dilahirkan ke dunia dengan membawa semua hal yang ia ingini, begitupun dengan Kitta Kafadaru, seorang anak lelaki yang dilahirkan dengan punuk di punggungnya.

Tersebutlah di sebuah desa bernama Kofa, di utara kota Larantuka, Nusa Tenggara Timur dulu sekali pernah terjadi hujan debu yang kemudian menutupi Kofa hari itu. Desa itu memang merupakan desa yang gersang, hujan jarang turun di sana, tapi kemudian cuaca berubah drastis, Kofa berubah menjadi desa yang subur, begitu hijau dan hampir semua tanaman dapat mengakar. Di empat penjuru desa juga terdapat empat mata air yang selalu mengalir bahkan sampai membentuk danau kecil. Singkat kata, Kofa adalah oasis berharga di tengah daerah yang kering kerontang.

Di desa itulah Kitta Kafadaru dilahirkan dan dibesarkan, semula orang-orang sering mengejek keadaannya yang spesial, tapi lama kelamaan mereka merasa sungkan sendiri, karena mereka menyadari ada yang berbeda dengan Kitta. Ia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan seseorang, sehingga banyak yang kemudian segan terhadapnya. Suatu hari, Kitta berhasil menyembuhkan seorang gadis yang berparas jelita dari luka bakar yang parah, dan Kitta jatuh cinta terhadap gadis itu. Tetapi sayang cintanya bertepuk sebelah tangan, sehingga Kitta kemudian melakukan perjalanan jauh mengembara meninggalkan desa tercintanya.

Di perjalanan, Kitta bertemu dengan banyak orang yang menceritakan banyak kisah terhadapnya. Ada seorang lelaki tua yang memiliki kisah-kisah ajaib,  lelaki dengan elang yang melayang di atas kepalanya, lalu ada perempuan bernama Tiana yang sering bersenandung misterius di hutan mati. Kitta juga bertemu dengan seorang lelaki yang mengisahkan tentang bencana desanya karena seorang anak Iblis, bertemu dengan perempuan yang merindukan air bah dan ia juga bertemu dengan Sang Legenda yang merupakan pemanggil hujan.

Dalam perjalanan itu Kitta berusaha menutupi kemampuannya dalam menyembuhkan seseorang, ia hanya ingin menjadi manusia biasa yang berkelana, tak lebih dari itu. Tapi kejadian demi kejadian selalu menggerakkan hati Kitta sehingga ia kemudian melunakkan keinginannya dari yang bertekad tidak akan menolong siapapun kemudian menjadi akan menolong tiga orang dalam perjalanannya kelak.

Mungkinkah dengan demikian Kitta akan berhasil menjadikan dirinya seperti manusia biasa lainnya? Atau memang keistimewaan yang ia miliki merupakan anugerah yang seharusnya ia syukuri bukan ia tutupi?

Kitta bagi saya seperti pencerminan dari manusia-manusia yang ada di dunia ini. Kita semua diberikan kelebihan meski mungkin ada sebagian orang yang kurang mensyukuri kelebihannya tersebut. Dengan membaca cerita Kitta, saya sebagai pembaca jadi lebih bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada saya, alih alih meratapi kekurangan yang ada.

Saya seperti diajak berkelana bersama Kitta, dan bagian yang paling saya suka adalah ketika Kitta bertemu dengan lelaki tua yang memiliki kisah-kisah ajaib. Dan satu pesannya yang cukup berkesan bagi saya,

“Semua yang diciptakan tentu selalu ada tujuannya.”- Hal. 41

Dan sepertinya buku ini memang dibuat untuk tujuan yang lebih dari sekadar menceritakan perjalanan Kitta yang luar biasa, tapi untuk menyentuh hati pembacanya dengan cara yang tak biasa. Selamat membaca. :)


http://www.facebook.com/notes/alvina-ayuningtyas/miracle-journey-kisah-perjalanan-penuh-keajaiban-kitta-kafadaru/10151443227584458

Rabu, 02 Januari 2013

Bagaimana Membuat Novel dari 6 Cerpen?



Novel Miracle Journey ini merupakan novel yang direkat dari 6 cerpen saya:

  •  Kofa
  •  Lelaki dengan Elang yang Melayang di Atas Kepalanya,
  • Perempuan yang Bersenandung Aneh di Hutan Mati,
  • Anak Iblis,
  • Perempuan yang Merindu Air Bah, dan
  • Sang Penabur Pasir, Sang Pemanggil Hujan

Cerpen Kofa sudah dimuat dalam Buletin Sastra Pawon, termuat juga dalam kumcer saya Mata Air Air Mata Kumari (BukuKatta), serta menjadi 1 bagian kisah di novel saya Perjalanan Menuju Cahaya (Sheilla). Cerpen Anak Iblis pernah dipublikasikan di Suara Merdeka. Cerpen Perempuan yang Merindu Air Bah dimuat di Jurnal Nasional dan Sang Penabur Pasir, Sang Pemanggil Hujan dimuat di Koran Tempo. Cerpen Lelaki dengan Elang yang Melayang di Atas Kepalanya merupakan revisi berulang-ulang dari cerpen Elang yang dulu pernah dimuat di Majalah Hai, dan masuk dalam kumcer pertama saya Lagu Senja (Balai Pustaka). Hanya satu cerpen, Perempuan yang Bersenandung Aneh di Hutan Mati, yang sengaja saya simpan dan tak saya kirim kemana-mana. Karena ini merupakan cerpen paling kuat di antara semuanya!
                                                                                                                    
Konsep buku ini sama persis seperti Perjalanan Menuju Cahaya. Sebuah kisah yang dipenuhi bingkai-bingkai kisah lainnya. Tokoh utama, melakukan perjalanan panjang dan mendapati kisah-kisah ajaib di setiap jeda perjalanannya. Tentu ada hal yang melatari perjalanan itu. Satu hal yang menjadi benang merah dari semua kisah. 

Awalnya tentu saja saya tak membuat secara khusus cerpen-cerpen itu untuk novel ini. Cerpen-cerpen itu saya buat seperti biasa. Namun saat mulai berpikir membuat sebuah novel perjalanan, saya mulai memilih-milih cerpen-cerpen mana yang sekiranya pantas masuk? Syarat cerpen itu tentu saja harus sesuai dengan temanya: mengandung satu unsur keajaiban. 

Maka terpilihlah 5 cerpen di antaranya. Cerpen-cerpen ini saya ibaratkan bagai ranting-ranting kecil di antara
sebuah ranting besar. Setiap ranting kecil tak terikat dengan ranting kecil lainnya. Tapi tentu ranting besar itu mengikat semuanya. Di situlah sang tokoh utama melakukan perjalanan, untuk kemudian menyinggahi satu demi satu kisah. Ia bisa menempatkan diri hadir di tengah-tengah kisah, atau hadir setelah kisah.
 
Dalam proses pembuatannya, secara tak sengaja saya harus mengeksplorasi satu tokoh yang muncul belakangan. Tanpa saya sadari saya membuat satu kisah Sang Penabur Pasir, Sang Pemanggil Hujan. Saya pikir kisah itu dapat berdiri sendiri. Maka saya kirimkan cerpen itu ke Tempo.

Seperti itulah... :)

Miraculous Journey atau Miracle Journey?



Sebuah pesan masuk ke ponselku pagi itu. Datang dari Mbak Sanie B Kuncoro;

Ini dari Vero:
Mbak… Mbak… Ceritanya kan kami buka fb… Yudhi nanya pendapat orang2 ttg cover buku barunya. Hmmm… kethoke kog judule agak kurang pas secara grammar: miracle journey...  kalo dari ilmu kuliahku dulu, dalam bayanganku secara gramatika mestinya A Miraculous Journey.  Minta tolong mas yudhi cek sama ahli inggris mungkin mbak... mungkin juga judul itu udah bener, aku yang sok tau… hihihi…

Pesan itu ternyata terusan sms dari mbak vero, yang dulu berkerja di Femina.
Hanya satu sms saja, namun itu langsung membuat saya kelimpungan. Hampir 2 tahun buku itu sesekali saya promosikan, gak pernah ada yang suara-suara protes soal judulnya. Maka saya pun langsung mencoba search di internet. Namun ternyata judul Miracle Journey juga dipakai oleh beberapa penulis sebagai judul bukunya. Bahkan ada pula sebuah game yang memakai judul itu.

Gak sampai di situ, saya juga menghubungi 2 ahli bahasa inggris yang saya pikir layak dipercaya. Yang pertama mbak Rini Badariah yang menerjemahkan buku saya Mata Air Air Mata Kumari ke dalam bahasa Inggris. Balasan beliau;

Kalo maksudnya perjalanan ajaib= miraculous journey, mas.
Kalo perjalanan keajaiban = miracle journey.

Saya langsung merasa lega. Awalnya buku ini judulnya Perjalanan Penuh Keajaiban. Tapi dirasa kurang menjual, maka saya ubah menjadi Miracle Journey. Pada intinya: tak sekedar tokoh utama yang menjalani keajaibannya dalam setiap perjalanan, namun keajaiban juga bergerak melakukan perjalanannya sendiri. So, saya merasa judul isi dalam buku saya dapat sesuai dengan kedua judul itu, entah itu Miraculous Journey ataupun Miracle Journey.

Kawan saya, Titik, pengajar di ELTI juga membalas begini;

Aku gak bilang salah loh mas. Tapi secara grammar emg yg btl miraculous. Tp spt kt unaffair itu di kamus gak ada, tapi utk hal yang bukan akademik, hal2 semacam itu kan banyak digunakan. Ky  kata funner skr sudah mulai banyak digunakan, padahal  secara grammar yg btl more fun…

Satu sms lagi;

Tapi yen wis berhubungan dg art aku ra arep nyalahne. Kyo lagune Daniel Bedingfield, he don’t  love you like I love you, yo gak ono sing mengharuskan diganti  jd doesn’t. Grammar tak berdaya di depan seni, cealah :D

Oke jadi kesimpulannya saya tetap memakai Miracle Journey  :)

Cover Miracle Journey Terpilih


Selasa, 01 Januari 2013

Sinopsis Miracle Journey, Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru

Kitta Kafadaru adalah sosok istimewa yang terlahir dengan cahaya-cahaya di tangannya. Konon dari tangannya itulah ia bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang di derita oleh orang-orang di desaanya, Kofa. Namun ternyata di balik keistimewaan itu, ia terlahir tak sempurna: ada sebuah punuk di punggungnya. Maka ketika ia jatuh cinta pada seorang perempuan yang baru disembuhkannya dari luka bakar di wajahnya, perempuan itu menolaknya.
 Itulah yang membuat Kitta Kafadaru berusaha untuk menyembuhkan sendiri punuk di punggungnya. Namun ia tak mampu. Rasa malu kemudian membuatnya meninggalkan Kofa. Pergi sambil terus menyesali keadaan dirinya. Ia berpikir lebih baik menjadi orang biasa, tanpa cahaya-cahaya di tangannya, tanpa juga punuk di punggungnya.
Di sepanjang perjalanan itulah ia kemudian bertemu dengan seorang lelaki tua yang selalu mengisahkan kisah-kisah ajaib padanya. Satu kisah tentang Matu Lesso orang yang dapat memanggil hujan dengan menabur pasir di udara, kemudian seperti menginspirasi Kitta Kafadaru untuk menjadi manusia biasa. 
Kitta Kafadaru hanya perlu mengacuhkan kelebihan yang ada padanya, setelah sebelumnya menolong sepenuh hati orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan sebanyak 3 kali. Maka itulah perjalanannya sepanjang Pulau Flores itu membawanya bertemu dengan kejadian-kejadian luar biasa. Ia bertemu dengan Nyong Baburung, orang yang selalu diiringi elang yang terbang di atas kepalanya sebagai penunjuk mata air. Ia bertemu dengan sebuah rombongan  yang baru saja melihat warga desa membakar hidup-hidup seorang perempuan yang selalu bersenandung aneh di hutan mati. Ia juga bertemu dengan seorang bocah yang terlahir dengan tubuh berwarna merah, selayaknya iblis.
Kitta Kafadaru terus menyakini dirinya. Sampai saat ia bertemu dengan seorang perempuan yang berharap air bah menelan dirinya beserta anak yang baru dilahirkannya